Tepatpada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengorasikan “…Marilah kita semua ber-Tuhan.

Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhandengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan,yakni dengan tiada ‘egoisme agama’. Dan hendaknya negara Indonesia satu negarayang ber-Tuhan. Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen,dengan cara yang berkeadaban Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormatmenghormati satu sama lain.

”             Pidato tersebut secara gambling menerangkanbahwa Indonesia bangsa yang membenarkan adanya Tuhan – dibangun pada dasar keyakinanakan zat agung yang ikut berperan serta dalam kemerdekaan bangsa ini. Sila KetuhananYang Maha Esa yang menduduki urutan pertama dalam Pancasila menjadi gambaranbahwa Indonesia sejatinya adalah negara yang ber-Tuhan dan hendaklah setiapwarga negara berpegang teguh pada keimanan terhadap Tuhan berdasarkan keyakinanmasing-masing.            Ketuhanan sebagai hakikat manusiasebagai makhluk Tuhan itu sudah pasti. Manusia tidaklah begitu saja ada didunia tanpa ada sebab hal tersebut terjadi. Sebab dari segala sebab, yakni Tuhan.Sejak manusia hadir ke dunia, manusia sudah terikat dengan Sang Penciptamelalui hukum Tuhan yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Hukumtersebut semata-mata untuk menjadikan manusia tetap manusia jiwa dan raga tanpaterkecuali.            Menengok keadaan negeri ini sekarang;petinggi negara yang rakus akan kekuasaan, korupsi yang semakin budaya, hukum danpolitik dipermainkan, ketegangan antargolongan yang masih mencuat, pembunuhansadis merajalela, teror yang terus mengintai, saling menghujat dan mengujar kebencian,dan beribu permasalahan lain yang merusak kehidupan antarsesama manusia – menjadikanreligiusitas “Ketuhanan Yang Maha Esa” semu seakan tidak berarti.

            Ketuhanan dengan segala sifatnyamustahil untuk diimplementasikan seutuhnya dalam kehidupan manusia, sebab manusiatidak akan pernah menyamai atau menyaingi Tuhan. Namun, disadari atau tidak,nilai-nilai religiusitas sudah ada dalam diri manusia atas kodratnya sebagaimakhluk Tuhan. Religiusitas tersebut teraktualisasi dalam agama yang dianutoleh masing-masing individu sesuai dengan keyakinannya masing-masing dantermaktub dalam kitab pedoman yang telah disediakan untuk umat manusia dalammenjalani hidup. Kemajemukan agama yang ada di Indonesia pun memungkinkanmunculnya beragam perspektif dalam memaknai ketuhanan itu sendiri.            Disisi lain, manusia diberikebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri sesuai dengan kehendaknya.Sifat liberal manusia inilah yang memotivasi manusia untuk tunduk atau ingkarterhadap aturan Tuhan tersebut. Bahkan manusia pun dapat memilih meyakini Tuhantersebut atau tidak meyakininya sama sekali.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Sifat tersebut didasari olehhakikat lain yang melekat dalam diri manusia, yakni nafsu. Disinilah jiwareligiusitas manusia diuji. Manusiakah yang mengendalikan nafsu atau justrunafsu yang mengendalikan manusia. Oleh sebab itulah, manusia dibekali akalsebagai mesin penggerak jiwa religiusitas dalam mengawal nafsu itu sendiri.

 Pentingnya berpegangpada religiusitas            Religiusitas tidak mengenalkesewenang-wenangan dalam bentuk apapun. Indonesia, negara yang ditegakkan ataskepentingan bersama sebagai usaha kolektif mewujudkan kemerdekaan bangsa dalamsatu keutuhan yang bulat, tidak sesuai apabila dikendalikan dengan kepemimpinanyang dictator, otoriter dan tiran. Prinsip kepemimpinan bangsa ini adalahkeyakinan adanya zat yang berkuasa diatas yang berkuasa, yakni Tuhan Yang MahaEsa. Keyakinan atas kekuasaan Tuhan tersebut, seorang pemimpin akan terjagaperilakunya dari perkara yang dapat mengggulingkan dirinya sendiri dan jugamasyarakat – yang hanya mementingkan urusan kalangannya sendiri tanpamenghiraukan aspirasi rakyat secara umum.

            Eratnya religiusitas dalam dirimanusia pula sebagai sensor yang menjamin manusia menjauhi urusan yangmelegalkan segala cara untuk memuaskan hasrat ‘kebinatangan’ yang belum jelasuntung-ruginya. Manusia sebagai makhluk religius artinya sifat-sifat Tuhan direalisasikandalam diri manusia itu sendiri dalam segala aspek kehidupan. Meskipun manusiatidak akan pernah selayaknya Tuhan,  berpegangpada pengamalan sifat-sifat Tuhan akan memunculkan kearifan dalam bertindak danmenjadi penunjuk jalan nafsu manusia dalam berpikir jernih dan bertindakrasional.  Keberagaman bukanhalangan dalam menjalani ketuhanan.             Indonesia adalah negara yang kayaakan keberagaman keyakinan dan agama. Tidaklah mengherankan apabila keberagamantersebut menimbulkan perbedaan pendapat dalam menghadapi suatu realitas yangterjadi.

Adakalanya pula suatu agama membenarkan sesuatu sedangkan agama lainmenolaknya. Ditambah lagi dengan stigma mengenai agama tertentu masih melekatdalam anggapan beberapa orang menambah deretan isu keagamaan di negeri ini. Setiapmasing-masing individu bebas mengemukakan gagasannya mengenai ketuhanan, namuntercerai-berai karena disparitas tidak akan menjadikan Indonesia hebat tetapimiskin akal sehat.            Menanggapi persoalan yang timbul berkaitandengan isu keagamaan dan keyakinan dengan menghakimi bersalah suatu agama dankeyakinan tertentu yang belum pasti kebenarannya atau membalas dengan ujarankebencian bukanlah tindakan yang bijak dalam beragama. Tindakan ekstemistmemang tidak dapat dibenarkan. Oleh sebab itu, religiusitas memandu kita untukterhindar dari tindakan diluar batas dan yang terpenting menjaga kerukunanhidup berdampingan dalam perbedaan.

            Keberagamanyang kita miliki bukan untuk saling mengungguli atau menjatuhkan antara yangsatu dengan yang lain, melainkan untuk saling mengenal serta memahami perbedaanyang ada, sehingga menimbulkan rasa pengertian dan hormat-menghormati satu samalain. Janganlah menjadi masyarakat apatis, tetapi jadilah masyarakat yangkritis dalam menanggapi suatu fenomena. Ingatlah kembali kondrat hakiki kitasebagai manusia, makhluk Tuhan. Religiusitas mengawasi dan membatasi kebebasanmanusia agar manusia menjadi humanis yang sesungguhnya, bukan menjadi manusia menghantuidengan tindakan yang mengancam hingga menghancurkan kehidupan sesama manusia.            Tuhan  kita boleh berbeda, begitu pun agama dankeyakinan kita.

Akan tetapi, hal tersebut bukanlah alasan untuk melakukantindakan diluar batas kemanusiaan, penghalang pemersatu bangsa, berbedapendapat yang tidak ada titik temunya, hingga aksi diskriminasi yang berujungkesenjangan hanya karena berlainan agama dan keyakinan. Religiusitas berperansebagai upaya untuk menempuh kearifan dalam berpikir dan bertindak rasional dalamberbagai konteks. Percayalah bahwa manusia dengan segala keterbatasannya mampumenggapai sesuatu yang tidak terbatas dengan bermodal kepercayaan kepada Tuhanyang Mahakuasa tanpa harus menafikan kepentingan orang lain serta tetap beradadalam jalan kebenaran dalam menempuh cita-cita pembangunan bangsa dalam naunganperlindungan-Nya.