BAB
I

Pendahuluan

BAB
I

Pendahuluan

We will write a custom essay sample on
BAB plastik hasil dari 100 toko dalam satu
Specifically for you for only $16.38 $13.9/page


order now

A.
Latar Belakang

            Berdasarkan
UU 18/2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam
yang berbentuk padat. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sampah
adalah sisa kegiatan manusia sehari-hari yang sudah tidak bernilai guna.

            Aktivitas
manusia sehari-hari berkaitan erat dengan sampah, baik sampah organic maupun
anorganik. Konsentrasi sampah terbanyak adalah sampah organic yang berasal dari
sisa makanan, sedangkan konsentrasi sampah sulit terurai yang terbanyak adalah
sampah plastik.

            Plastik
memiliki peranan besar dalam aktivitas manusia sehari-hari. Plastik banyak
digunakan sebagai kemasan makanan, produk tekstil, dan obat-obatan. Dapat
dikatan plastik telah mendominasi keseharian manusia. Penggunaan plastik yang
terlalu banyak dapat merugikan manusia dan lingkungan sekitar karena plastik
memakan sekitar 200-400 tahun untuk teruari. Walaupun telah ada metode
pengolahan plastik, nyatanya sampah plastik belum bisa 100% diolah secara
keseluruhan. Sampah plastik yang tidak terolah akan mencemari air dan tanah.
Racun dari zat kimia plastik akan meresap ke tanah dan membunuh hewan pengurai
di dalamnya. Sedangkan sampah plastik yang masuk ke air akan mengganggu biota
air dan membunuh makhluk hidup di dalamnya. Jumlah penggunaan sampah plastik
harus segera diturunkan untuk menghindari dampak negatif tersebut.

 

B.
Tujuan                               : Mengetahui alasan pro plastik berbayar

                                                  Mengetahui dampak pro plastik berbayar

C.
Rumusan Masalah           :

1. Apa alasan plastik berbayar harus didukung?

2. Bagaimana dampak dari plastik berbayar terhadap
jumlah sampah plastik?

 

 

BAB
II

Pembahasan

 

Menurut Kementrian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik
peringkat kedua setelah Tiongkok. Data dari KLHK menyebutkan bahwa plastik
hasil dari 100 toko dalam satu dapat mencapai 10,95 juta lembar. Jumlah
tersebut setara dengan luasan 65.7 hektar. Berdasarkan data Jambeck
(2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke
laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina. Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah,
dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah plastik Indonesia di 2019 akan
mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Lebih
dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari
kantong plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Menurut
Tuti, sampah yang benar-benar bisa didaur ulang hanya sebesar 5%. Lantas upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi
jumlah sampah plastik di Indonesia?

Berdasarkan fakta tersebut,
Indonesia harus menurunkan jumlah penggunaan kantong plastik guna menghindari
kemungkinan negatif yang dapat terjadi, salah satunya dengan penerapan plastik berbayar.
Uji coba penerapan kantong plastik berbayar sudah pernah diterapkan di
Indonesia pada 21 Februari 2016 sampai 31 Mei 2016. Penerapan plastik berbayar dinilai
berhasil karena mempu mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik secara
signifikan. Tuti mengatakan penerapan plastik berbayar telah menurunkan
jumlah pemakaian
plastik di 23 kota. Penurunan penggunaannya mulai 25 persen sampai 80 persen.

 Laporan hasil monitoring dan evaluasi
(monev) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan
terdapat dampak positif dari uji
coba kebijakan yang memasang banderol Rp 200 untuk setiap kantong plastik. Monev tersebut melibatkan 160 ritel
modern dan 535 konsumen yang diharuskan mengisi kuisioner seputar pemahaman
maksud dan tujuan penerapan kantong plastik berbayar. Lebih dari 90 persen toko ritel mengaku
sudah memahami kebijakan tersebut. Bahkan 123 dari 160 ritel yang dimonitoring
menawarkan opsi pengganti kantong belanja plastik seperti reusable bag dan
kardus bekas. Sebanyak 91 persen
dari konsumen pun sudah memahami maksud dan tujuan penerapan kebijakan ini.

Penerapan plastik berbayar di
Indonesia perlu didukung dan dilanjutkan mengingat banyaknya sampah plastik
yang dihasilkan di Indonesia. Dengan menerapkan sampah plastik berbayar di
Indonesia, sedikit demi sedikit masyarakat akan mengurangi penggunaan plastik
dan mencari alternatif lain seperti menggunakan tas belanja yang dapat digunakan
berulang kali dan tentunya jauh lebih ramah lingkungan.

BAB III

Simpulan Dan Saran

 

A. Simpulan

            Penerapan plastik berbayar di Indonesia harus didukung
baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat mengingat banyaknya jumlah sampah
plastic di Indonesia yang tidak terolah. Sampah plastic yang tidak terolah akan
terus menerus tertumpuk dan dapat membahayakan lingkungan sekitar karena sampah
plastic memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai.

            Penerapan sampah plastic berbayar di Indonesia dinilai
berhasil karena mampu menurunkan jumlah sampah plastic. Bahkan beberapa toko
ritel menawarkan alternatif lain pengganti sampah plastic dengan reusable bag yang jauh lebih ramah
lingkungan. Kerjasama dan pengertian dari pihak pemerintah dan masyarakat
sangat diperlukan guna menciptakan lingkungan yang sehat.

B. Saran

            Pemakaian plastic sebaiknya dikurangi dan dihindari
mengingat banyaknya jumlah sampah plastic yang menumpuk dan tidak terolah di
Indonesia. Masyarakat sebaiknya menggunakan alternatif lain seperti tas belanja
yang dapat digunakan berulang kali. Hal ini tentu lebih ramah lingkungan dan
lebih sehat bagi lingkungan sekitar

            Berdasarkan
UU 18/2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam
yang berbentuk padat. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sampah
adalah sisa kegiatan manusia sehari-hari yang sudah tidak bernilai guna.

            Aktivitas
manusia sehari-hari berkaitan erat dengan sampah, baik sampah organic maupun
anorganik. Konsentrasi sampah terbanyak adalah sampah organic yang berasal dari
sisa makanan, sedangkan konsentrasi sampah sulit terurai yang terbanyak adalah
sampah plastik.

            Plastik
memiliki peranan besar dalam aktivitas manusia sehari-hari. Plastik banyak
digunakan sebagai kemasan makanan, produk tekstil, dan obat-obatan. Dapat
dikatan plastik telah mendominasi keseharian manusia. Penggunaan plastik yang
terlalu banyak dapat merugikan manusia dan lingkungan sekitar karena plastik
memakan sekitar 200-400 tahun untuk teruari. Walaupun telah ada metode
pengolahan plastik, nyatanya sampah plastik belum bisa 100% diolah secara
keseluruhan. Sampah plastik yang tidak terolah akan mencemari air dan tanah.
Racun dari zat kimia plastik akan meresap ke tanah dan membunuh hewan pengurai
di dalamnya. Sedangkan sampah plastik yang masuk ke air akan mengganggu biota
air dan membunuh makhluk hidup di dalamnya. Jumlah penggunaan sampah plastik
harus segera diturunkan untuk menghindari dampak negatif tersebut.

 

B.
Tujuan                               : Mengetahui alasan pro plastik berbayar

                                                  Mengetahui dampak pro plastik berbayar

C.
Rumusan Masalah           :

1. Apa alasan plastik berbayar harus didukung?

2. Bagaimana dampak dari plastik berbayar terhadap
jumlah sampah plastik?

 

 

BAB
II

Pembahasan

 

Menurut Kementrian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik
peringkat kedua setelah Tiongkok. Data dari KLHK menyebutkan bahwa plastik
hasil dari 100 toko dalam satu dapat mencapai 10,95 juta lembar. Jumlah
tersebut setara dengan luasan 65.7 hektar. Berdasarkan data Jambeck
(2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke
laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina. Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah,
dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah plastik Indonesia di 2019 akan
mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Lebih
dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari
kantong plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Menurut
Tuti, sampah yang benar-benar bisa didaur ulang hanya sebesar 5%. Lantas upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi
jumlah sampah plastik di Indonesia?

Berdasarkan fakta tersebut,
Indonesia harus menurunkan jumlah penggunaan kantong plastik guna menghindari
kemungkinan negatif yang dapat terjadi, salah satunya dengan penerapan plastik berbayar.
Uji coba penerapan kantong plastik berbayar sudah pernah diterapkan di
Indonesia pada 21 Februari 2016 sampai 31 Mei 2016. Penerapan plastik berbayar dinilai
berhasil karena mempu mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik secara
signifikan. Tuti mengatakan penerapan plastik berbayar telah menurunkan
jumlah pemakaian
plastik di 23 kota. Penurunan penggunaannya mulai 25 persen sampai 80 persen.

 Laporan hasil monitoring dan evaluasi
(monev) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan
terdapat dampak positif dari uji
coba kebijakan yang memasang banderol Rp 200 untuk setiap kantong plastik. Monev tersebut melibatkan 160 ritel
modern dan 535 konsumen yang diharuskan mengisi kuisioner seputar pemahaman
maksud dan tujuan penerapan kantong plastik berbayar. Lebih dari 90 persen toko ritel mengaku
sudah memahami kebijakan tersebut. Bahkan 123 dari 160 ritel yang dimonitoring
menawarkan opsi pengganti kantong belanja plastik seperti reusable bag dan
kardus bekas. Sebanyak 91 persen
dari konsumen pun sudah memahami maksud dan tujuan penerapan kebijakan ini.

Penerapan plastik berbayar di
Indonesia perlu didukung dan dilanjutkan mengingat banyaknya sampah plastik
yang dihasilkan di Indonesia. Dengan menerapkan sampah plastik berbayar di
Indonesia, sedikit demi sedikit masyarakat akan mengurangi penggunaan plastik
dan mencari alternatif lain seperti menggunakan tas belanja yang dapat digunakan
berulang kali dan tentunya jauh lebih ramah lingkungan.

BAB III

Simpulan Dan Saran

 

A. Simpulan

            Penerapan plastik berbayar di Indonesia harus didukung
baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat mengingat banyaknya jumlah sampah
plastic di Indonesia yang tidak terolah. Sampah plastic yang tidak terolah akan
terus menerus tertumpuk dan dapat membahayakan lingkungan sekitar karena sampah
plastic memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai.

            Penerapan sampah plastic berbayar di Indonesia dinilai
berhasil karena mampu menurunkan jumlah sampah plastic. Bahkan beberapa toko
ritel menawarkan alternatif lain pengganti sampah plastic dengan reusable bag yang jauh lebih ramah
lingkungan. Kerjasama dan pengertian dari pihak pemerintah dan masyarakat
sangat diperlukan guna menciptakan lingkungan yang sehat.

B. Saran

            Pemakaian plastic sebaiknya dikurangi dan dihindari
mengingat banyaknya jumlah sampah plastic yang menumpuk dan tidak terolah di
Indonesia. Masyarakat sebaiknya menggunakan alternatif lain seperti tas belanja
yang dapat digunakan berulang kali. Hal ini tentu lebih ramah lingkungan dan
lebih sehat bagi lingkungan sekitar

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Click here